Meningkatkan Kecerdasan Emosi pada Anak

Filed in Anak , Pendidikan anak 0 comments
Artikel ini
dipersembahkan
Oleh

Untuk mencapai sukses dimasa depan, anak tidak hanya harus pandai secara akal (IQ) tapi lebih penting lagi harus memiliki kecerdasan emosi (EQ). Kecerdasan emosi pada anak tidak terjadi begitu saja tapi harus  diajarkan dan dibentuk sejak dini karena itu peran orang tua sangat penting dalam membentuk kecerdasan emosi pada anak.

Pernah bertemu dengan orang yang pandai tapi sikapnya tidak menyenangkan ? itu adalah contoh pribadi yang pintar ( IQ tinggi ) tapi kecerdasan emosinya ( EQ ) rendah. Orang yang demikian sulit mencapai sukses dalam hidupnya karena untuk sukses kita perlu bantuan dan dukungan orang lain.

Seperti orang dewasa, anak juga merasakan bermacam-macam emosi seperti marah, malu, senang, sedih, terkejut dan sebagainya. Ajari anak untuk mengenali emosinya, mengekspresikan emosinya dam mengendalikan emosinya dengan tepat.

Ketika melihat anak jatuh jangan dimarahi atau ditertawakan tapi bantu dia berdiri dan ucapkan kata-kata yang menenangkannya seperti, “ Adik jatuh ya ? mari bunda bantu berdiri. Adik sekarang main lagi ya.”

Ketika anak senang karena menerima mainan baru, katakan : “Adik senang ya dengan mainan baru dari kakek.” Tunjukkan ekspresi senang padanya.

Saat anak marah lalu memukul, dengan tenang katakan kepada anak, “Adik marah ya karena tidak dipinjamin mainan oleh kakak ? adik kalau marah tidak boleh memukul ya karena itu tidak baik. Kalau mau pinjam mainan kakak, adik harus bilang baik-baik.”

Lewat kejadian-kejadian tiap hari, balita belajar tentang emosi dan cara mengekpresikan emosi dan mengendalikannya dengan benar.

Selain itu anak juga bisa diajari mengenali emosi yang dirasakan oleh orang lain. Hal ini merupakan bentuk stimulasi kecerdasan emosional dalam aspek intra personal. Diharapkan anak sejak dini dapat menunjukkan empati atau memahami apa yang dirasakan oleh orang lain.

Ketika ada teman yang hendak meminjam mainan tapi oleh si anak ditolak, bunda bisa mengatakan kepada anak, “Adik, temannya pinjam mainan tuh, yuk diajak main bersama.”

Dan jangan lupa, anak juga memperhatikan reaksi emosi kita terhadap suatu kejadian dan menirunya. Seringkali orang dewasa secara tidak sadar menunjukkan reaksi yang tidak tepat terhadap emosi yang ditujukan kepada anak. Seperti ketika melihat anak jatuh tapi karena jatuhnya lucu maka orang dewasa menertawakannya hal ini dapat membuat anak merasa malu atau marah. Juga mengajarkan enak untuk tidak berempati.

 

 

Posted by admin   @   14 October 2011 0 comments
Tags : , , , , , , ,
Previous Post
«
Next Post
»

0 Comments

No comments yet. Be the first to leave a comment !
Leave a Comment

Leave a Comment with your Facebook
© 2011-2013 AnakIbu.com. Hak cipta dilindungi undang-undang.
Design by Hary Purnomo (www.haryp.com)